Tidak ada batasan umum untuk definisi pembunuhan berantai. Definisi Egger ialah sebagai berikut; “Pembunuhan berantai terjadi bila satu atau lebih individu melakukan pembunuhan kedua dan/atau melakukan pembunuhan secara berturut-turut dimana tidak ada hubungan antara korban dan pelaku pembunuhan ( dimana korban tidak mengenal pelaku); terjadi pada saat yang berbeda dan tidak ada hubungannya dengan pembunuhan sebelumnya; dan ini seringkali terjadi pada lokasi atau tempat yang berbeda.
Meskipun dalam definisi mencantumkan bahwa 2 kali pembunuhan berantai, sudah cukup memenuhi syarat pembunuhan berantai, kebanyakan sumber menggunakan angka kejadian pembunuhan yang lebih tinggi, yaitu dari 4-5 atau lebih banyak lagi.
Terpusat pada definisi pembunuhan berantai, harus dibedakan dengan pembunuhan “massal”, bentuk lain dari pembunuhan yang multipel. Dietz mendefinisikan pembunuhan massal sebagai “penyerbuan terhadap korban yang lebih dari satu orang yang secara intensif dibunuh oleh satu orang pelaku dalam satu kejadian.” Hal ini serupa dengan definisi lain mengenai gambaran pembunuhan masal ”…satu kejadian dalam waktu dekat…,” sedangkan definisi waktu untuk pembunuhan berantai ialah ”…jeda waktu antara pembunuhan, minimal dua hari sampai dua minggu bahkan berbulan-bulan.”
Pusat Analisis Nasional Terhadap Kejahatan Dengan Kekerasan di Akademi FBI, di Quantico, Virginia, mengelompokkan pembunuhan berantai menjadi dua tipe: “spree” dan “klasik”. Pembunuhan berantai tipe “spree” meliputi dua atau lebih pembunuh pada tempat yang terpisah tanpa adanya waktu ‘istirahat’ diantara setiap pembunuhan. Waktu antara tiap pembunuh dapat terjadi dalam menit atau hari, dan pelaku bertujuan untuk mendapatkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dan mungkin saja pelakunya adalah orang yang tempat tinggalnya berpindah-pindah. Pembunuhan berantai yang “klasik” memenuhi dua episode pembunuhan yang terpisah, biasanya oleh satu pelaku yang sama, terpisah dalam periode waktu, jam sampai tahun. Secara khas, metode yang dipakai dari kejadian tindak kriminal menggambarkan kesadisan dan kelainan seksual.
Beberapa sinonim mengenai pembunuhan seksual berantai meliputi; lust murderer (dari Jerman “lustmorder”), pembunuhan sadis, pembunuhan yang kompulsif, pembunuhan seksual yang sadis dan erotofonofilia. Batasan-batasan yang jelas antara pembunuhan seksual berantai dan tipe lainnya sangatlah penting, meliputi demografi, diagnosis, dan teori etiologi dari tipe pembunuhan. Dietz membedakan pembunuhan berantai menjadi 5 kategori, a/l:
· Seksual sadisme Psikopat
· Pembunuhan kriminal tipe “spree” ( pembunuhan dilakukan secara berantai untuk memenuhi keinginan pelaku untuk mendapatkan kepuasan, uang dan barang- barang berharga, penjahat “Bonnie and Clyde”)
· Kejahatan yang terorganisasi (contohnya: mafia, gangster)
· Pembunuhan dengan racun dan menimbulkan asfiksia (contoh: pembunuhan berantai di RS)
· Pembunuh yang psikotik (contoh: David Berkowitz, “Anak dari Sam”, yang menyatakan dirinya membunuh karena disuruh oleh anjing tetangganya.)
Kategori pertama, “Seksual Sadisme Psikopat”, berhubungan dengan pembunuhan seksual berantai. Jenkins, mempelajari pembunuhan berantai di Inggris mengecualikan motivasi politik dan pembunuh berantai yang disewa.
Setelah membedakan antara pembunuhan seksual berantai dengan tipe pembunuhan berantai lainnya, lebih jauh lagi tipe pelakunya dapat ditentukan juga. Dikotomi penting meliputi versi geografi yang menetap dan berpindah- pindah (transien), serta tipologi yang terorganisasi dan yang tak terorganisasi. Pembunuh dengan lokasi tempat tinggal yang menetap adalah satu pembunuh yang memilih korbannya berdasarkan tempat tinggal secara istimewa. Contohnya Gacy di Chicago dan Wayne Williams di Atlanta. Tipe lain dari pembunuh adalah memilih lokasi yang berpindah- pindah. Ted Bundy’s melakukan pembunuhan di beberapa negara bagian (Washington, Utah, Colorado, dan terakhir Florida), dia membunuh disekitar 6 negara bagian.
Para pembunuh yang transien, ialah sebuah produk dari kemajuan sistem ‘highway’ yang menghubungkan antar negara bagian. Hal ini dapat dilihat pada kasus pembunuhan ‘career’ oleh Earle Nelson pada tahun 1920. Sepanjang Februari 1926 sampai Juni 1927, Nelson telah melakukan 21 pembunuhan di 9 negara bagian, mulai dari California sampai New York dan Kanada.
Dikotomi penting lainnya pada pembunuhan seksual berantai ialah deskripsi yang direncanakan atau tidak, yang digunakan untuk mengklasifikasikan tempat kejadian perkara dan variabel cerita kehidupan dari pelaku kejahatan. Pada salah satu studi dari 36 orang pelaku pembunuhan yang disertai kekerasan seksual, pembunuhan yang direncanakan 2 kali lebih umum, dibandingkan dengan yang tidak direncanakan. Kejahatan yang direncanakan memeperlihatkan bukti yang repetitif, terorganisir dan hasilnya dapat dibedakan dengan kejahatan yang tidak direncanakan, yang hasilnya lebih kacau. Pembunuh berantai yang terencana diyakini memiliki kebanggaan yang tinggi dalam hal keahlian, yang dapat dilihat dari strategi dan jumlah korban mereka. Pembunuh ini sangat dipengaruhi oleh fantasi mereka, sedangkan pembunuh yang tidak direncanakan umumnya membunuh dengan lebih impulsif. Singkatnya pembunuh terencana ini cenderung untuk; didasari suatu rencana, melakukan pengekangan terhadap korbannya, memperkosa korbannya selagi hidup, unjuk kekuatan/kontrol terhadap koraban dan mempergunakan kendaraan. Para pembunuh yang tidak direncanakan, biasanya; meninggalkan senjata pada tempat kejadian perkara, memposisikan korbannya, memperkosa korban setelah mati, menyimpan mayat korban, berusaha supaya korban tidak dikenali dan tidak menggunakan kendaraan.
Menariknya para pembunuh yang terencana akan berubah menjadi tidak terencana seiring berjalannya waktu. Seperti akhir riwayat Theodore Bundy; dia mabuk berat, menggunakan kartu kredit curian dan tampaknya mengalami peningkatan gejala paranoid dan putus asa, tidak seperti biasanya, saat dia lebih mampu untuk mengontrol dirinya.
Karakteristik lain yang penting untuk mendeskripsikan pembunuhan seksual berantai ialah tipe korban, modus operandi dan variabilitas TKP. Secara umum korban dari pembunuhan berantai memiliki 2 karakteristik, yaitu rapuh dan memiliki keinginan untuk dikontrol. Pembunuh sadistik seringkali memilih korban seperti; wanita muda, anak-anak, PSK dan tuna wisma. Ted Bundy mengincar wanita muda dengan rambut panjang berwarna gelap, sementara Wayne Williams memilih laki-laki muda berkulit hitam.
Berbeda dengan pembunuhan lain yang paling sering menggunakan senjata api, maka pembunuh seksual berantai biasanya membunuh korbannya dengan tangan kosong, seperti metode asfiksia yang tidak umum digunakan, pemukulan atau penusukan multipel. Para pembunuh inijarang menggunakan senjata yang tidak personal seperti senjata api, karena mereka hanay akan mendapatkan sedikit kepuasan psikoseksual. Dari 159 pembunuhan berantai sejak tahun 1795 sampai 1988, beberapa metode yang umum digunakan untuk menimbulkan kematian ialah mutilasi (55%), penjeratan (33%) dan dipukul dengan alat (25%).
Korban pembunuhan seksual berantai seringkali mengalami mutilasi, yang merupakan suatu hal yang tidak umum dilakukan oleh pembunuhan biasa. Kebanyakan yang dimutilasi, di daerah payudara, genitalia, rektum dan/atau abdomen. Tanda bekas gigitan seringkali ditemukan, dan dapat juga ditemukan tanda gigitan seperti vampir dan kanibal. Pembunuh dapat melakukan atau tidak melakukan persetubuhan dengan korbannya dan dia juga bisa masturbasi di samping atau di atas korbannya.
Eckert dkk meneliti sejumlah kasus kekerasan, perlukaan dan kematian yang terkait dengan seks, dilihat dari segi patologi forensik dan sebagian dari artikelnya mencakup mengenai mutilasi dan perilaku pembunuh seksual berantai. Mereka mengklasifikasikan kekerasan seksual yang mengakibatkan cedera dan kematian sebagai; 1) aktifitas seksual konvensional (contohnya : kolaps vaskuler yang sekunder dari ‘cerebrovascular accident’ akibat aktifitas seksual), 2) aktifitas seksual kriminal (kategori ini mencakup pembunuhan seksual berantai di bawah subkategori pembunuhan) dan 3) aktifitas seksual lainnya (contohnya : sodomi, melkukan hubungan seks dengan binatang dan pedofilia).
Umumnya pembunuh seksual berantai akan memposisikan korbannya pada tempat pembunuhan terjadi. Banyak dari para pelaku ini menikmati kebanggaan dari hasil maha karya tindak kejahatan mereka. Bukti dari perbudakan dan parafilia seringkali ditemukan. Dietz melakukan studi terhadap 30 pelaku seksual sadistik multipel dan menemukan bahwa 23 dari mereka menggunakan perbudakan dalam melkukan aksinya. Bahkan banyak dari antara mereka sudah mempersiapkan panggung, tiang, kostum bahkan naskah untuk aksi kejahatannya.
Karateristik terakhir ialah bahwa naskah kejahatan mereka memiliki banyak kesamaan, yang berarti pembunuhnya akan menggunakan metode pembunuhan yang sama dan pengaturan TKP yang mirip pada pembunuhan yang kedua dan selanjutnya.
KARATERISTIK
Brittain memperkenalkan deskripsi klinis dari pembunuh seksual sadistik, kepada banyak ahli lainnya. Namun, beberapa studi lain menyatakan bahwa pembunuh seksual berantai memiliki berbagai macam karakteristik.
Berbeda dari keseluruhan kejahatan dengan kekerasan lainnya, mayoritas pelaku dan korbannya ialah berkulit putih. Meskipun pernah didapatkan kasus pembunuh berantai wanita, namun tidak didapatkan catatan mengenai pembunuh seksual berantai wanita. Carol Wuornes, seorang PSK berusia 35 tahun, dituduh telah membunuh 5 orang laki-laki di Florida dengan menggunakan senjata api, setelah berhubungan seks dengan mereka. Walaupun motifnya tidak pernah diketahui dengan pasti, namun ada pihak yang berspekulasi bahwa perilaku kriminalnya mewakili bentuk pembunuhan seksual berantai yang dilakukan oleh wanita.
Usia para pelaku ini biasanya kurang dari 35 tahun dan mereka memulai kejahatannya pada usia 20 tahun. Di Inggris secara kasar dapat dikatakan bahwa ‘karir’ mereka ini bertahan selama 4 tahun, namun di AS angka ini bertahan lebih lama. Pada 222 kasus pambunuhan berantai yang klasik yang dikumpulkan oleh Pusat Analisis Nasional Terhadap Kejahatan Dengan Kekerasan, angka mean dari usia mereka mulai melakukan pembunuhan ialah 27,5 tahun. NCAVC telah mengidentifikasi total 357 pembunuhan berantai sejak 1960, dengan penelusuran menggunakan komputer melalui berbagai sumber informasi. Para pelaku ini diduga telah membunuh 3.169 korban, dengan angka rata-rata 9 korban per pelaku.
Pembunuhan seksual berantai yang dilakukan oleh remaja, bukan merupakan suatu hal yang jarang terjadi. Burgess dkk melaporkan bahwa 10 dari 36 laki-laki yang didakwa melakukan pembunuhan seksual, ialah remaja. Pengarang W.C.M mengevaluasi 2 remaja laki-laki, berusia 13 dan 16 tahun, yang menunjukkan manifestasi sebagai perilaku pembunuhan seksual dini. Remaja pertama menyerang pengasuh anak tetangganya yang tidak dia kenal, dan mengatakan pada korbannya bahwa dia akan memperkosanya sambil berulang kali menusuk korban dengan pisau. Korbannya bertahan hidup walaupun mengalami, pneumotoraks, kebutaan sebelah akibat tusukan dan beberapa luka tusuk lainnya. Remaja kedua membunuh tetangga perempuannya yang berusia separuh baya, dengan penjeratan dan kemudian berhubungan seks denagn jenazah korbannya. Keduanya diadili dipersidangan dewasa dan dijatuhi hukuman yang lama, sehingga perkembangan perilaku mereka tidak dapat dipantau lebih lanjut. Tidak ada satupun dari mereka yang mampu atau mau mengungkapkan fantasi yang menyebabkan mereka malakukan tindak kejahatn tersebut, namun diasumsikan bahwa terjadi suatu fantasi sadistik yang kuat saat mereka melakukan kejahatan.
Para pelaku umumnya melakukan pembunuhan saat sedang sendirian, hanya ¼ sampai 1/3 dari mereka yang memiliki satu atau lebih partner. Kebanyakan mereka berasal dari keluarga berantakan yang menderita siksaan fisik, emosional maupun seksual. Pada kasus 30 orang pelaku kejahatan sadistik, yang 22 (73%) diantaranya telah melakukan setidaknya 1 kali pembunuhan, 1/5 nya mengalami siksaan fisik dan hampir ½ nya mengalami siksaan seksual. Pada kasus lain yang mengkaji 36 laki-laki yang setidaknya telah melakukan 1 pembunuhan seksual (29 atau 81% telah membunuh lebih dari 1 korban), 42% telah mengalami siksaan fisik, 74% siksaan emosional dan 43% siksaan seksual.
Retvitch menggambarkan hubungan ambivalen yang ekstrim antara karakter ibu, baik yang terlalu protektif, memperlakukan seperti anak kecil dan penolakan dari sang anak laki-laki. Persetubuhan dengan ibu, baik nyata maupun khayalan, juga sering ditemukan. Sang ayah bisa jadi dingin, menjaga jarak, otoriter dan sering memberi hukuman. Secara fisik para pelaku ini tampak normal dan tidak pernah melakukan sesuatu yang brutal. Penampilan yang normal ini, akan menambah histeria massal dari para tetangga di tempat tinggal pelaku, begitu mereka mengetahui adanya pembunuhan seksual berantai. Keadaan ini mirip seperti saat diadakannya Salem’s witch trial pada akhir abad ke 17.
Beberapa studi menunjukkan bahwa tidak seperti pembunuh lainnya, secara kasar 80% pembunuh seksual berantai memiliki tingkat kepandaian rata-rata sampai tinggi. Namun demikian, Hickey berpendapat bahwa kemampuan para pelaku untuk membunuh dan tidak tertangkap, lebih kepada kepandaian dalam menipu dan bukan berdasarkan intelegensia mereka. Secara umum dapat dikatakan bahwa pembunuh terencana memiliki intelengensia di atas rata-rata, sedangkan pembunuh tidak terencana sebaliknya.
Hanya 20% dari keseluruhan pembunuh berantai yang memiliki riwayat pengobatan psikiatri. Menurut Burgess dkk, 70% pria yang melakukan pembunuhan seksual (81% dari jumlah tersebut telah melakukan lebih dari 1 kali pembunuhan), pernah didiagnosis memiliki suatu kelainan psikiatrik. Namun kelainan jiwa yang bermanifestasi pada terdakwa semacam ini, tidak sering ditemukan. Lebih jauh lagi, Ressler dkk menemukan bahwa setengah (53%) dari kasus ini, memiliki kelainan psikiatrik pada keluarganya. Riwayat penyalahgunaan alkohol (69%), penyalahgunaan obat (33%) dan tindak kriminal (50%) pada keluarga, juga sering ditemukan.
Suatu angka yang signifikan menunjukkan bahwa sebagian dari para laki-laki ini, tidak memiliki riwayat kriminal sebelumnya atau hanya melakukan/pernah mendapatkan dakwaan atas kejahatan tanpa kekerasan selama ditahan. Namun 60% dari pembunuh berantai memiliki suatu riwayat kejahatan. Sekitar setengah (44%) dari 42 orang pembunuh berantai, memiliki riwayat pernah melakukan kejahatan berkaitan dengan seks. Pada studi yang dilakukan oleh Ressler dkk pada kelompok pelaku pembunuhan seksual berantai, memiliki gejala gangguan jiwa seperti mencuri (81%), berbohong (75%) dan kekerasan terhadap orang yang lebih tua/dewasa (84%), gejala-gejala ini sangat sering ditemukan pada dewasa muda. Gejala-gejala ini apabila ditelusuri sampai dewasa, akan membentuk suatu perilaku antisosial, berupa mencuri (56%), kebiasaan berbohong yang berlangsung kronik (68%) dan kekerasan terhadap sesama orang dewasa (86%).
Sebagian dari mereka ialah heteroseksual, namun beberapa memiliki riwayat aktifitas homoseksual. Didapatkan prevalensi tinggi mengenai disfungsi seksual dan parafilia non sadistik (transvestisme, voyeurisme, fetihisme, ekshibisionisme). Sebuah laporan menyatakan bahwa hampir setengah dari sejumlah terdakwa atas pembunuhan seksual, memiliki kebencian terhadap seks. Suatu fakta menarik ialah bahwa ternyata 81% dari para terdakwa ini, mengaku bahwa pornografi merupakan ketertarikan seksual terbesar mereka. Studi yang dilakukan oleh Prentky dkk, menemukan bahwa para pelaku pembunuhan seksual berantai memiliki angka parafilia yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan para pelaku pembunuhan seksual tunggal. Perbedaan angka ini terutama ditemukan pada fetihisme (71% berbanding 33%) dan cross dressing (25% berbanding 0%). Dietz melaporkan, bahwa dari 30 orang terdakwa atas kejahatan seksual sadistik (22 diantaranya melakukan pembunuhan), terdapat angka rata-rata 2,7 yang menderita parafilia. Laporan ini menyimpulkan bahwa ternyata yang terjadi di kehidupan nyata, berlawanan dengan pemikiran selama ini, bahwa parafilia jarang didapati pada para terdakwa atas kejahatan seksual sadistik.
Pelaku pembunuhan seksual berantai, memiliki kebutuhan psikologis untuk kontrol absolut, dominasi dan unjuk kekuatan terhadap korbannya, menciptakan siksaan, rasa sakit dan kematian, yang digunakan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam kesaksiannya, Roy Norris yang bersama-sama dengan Lawrence Bittaker melakukan penculikan, pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap 5 gadis remaja, mengatakan bahwa perkosaan bukan merupakan bagian terpenting, melainkan dominasinya yang terpenting. Para laki-laki ini menciptakan kehidupan yang penuh fantasi dan akan melakukan masturbasi setiap kali membayangkan perilaku seksual sadistik yang rekuren. Mereka yang sudah menikah (sebanyak 50%) dapat mengalihkan fantasi ini kepada pasangan atau anak-anak mereka.
Sebagian dari para pelaku kejahatan ini, memiliki pekerjaan mapan dan jabatan yang tinggi. Mereka seringkali mengejar pekerjaan yang dapat membawa mereka untuk berkontak dengan hewan atau manusia yang terluka atau menderita, agar dapat mereka kontrol. Lokasi yang menarik bagi mereka seperti rumah sakit, pemulasaraan jenazah dan rumah jagal. Riwayat kekejaman yang ekstrim, sering ditemukan. Insidensi dari penyalahgunaan obat dan alkohol pada pelaku pembunuhan seksual, masih merupakan suatu kontroversi. Beberapa studi melaporkan insidensi setinggi 50%. Diketahui juga bahwa mereka mengoleksi benda-benda yang bertema pornografi dengan kekerasan, perlengkapan polisi dan bahkan menulis sejumlah kejahatan mereka sendiri. Seringkali mereka menunjukkan minat yang tinggi terhadap paham Nazi, ilmu sihir hitam, siksaan, monster dan jenis-jenis senjata tertentu.
Kepribadian mereka digambarkan sebagai bertata krama baik, lembut, pendiam/penyendiri, kurang percaya diri, religius, inadekuat, kutu buku, obsesif dan hipokondriakal. Mereka seringkali menutupi/menyembunyikan temperamen mereka dari orang lain, walaupun sebagian dari mereka mengakui kebenciannya terhadap wanita. Liebert menyatakan bahwa tidak ada pelaku pembunuhan seksual yang menjalani psikoterapi intensif, sebagian disebabkan karena ketidakmampuan mereka untuk mempertahankan hubungan intim yang sesungguhnya.
Di dalam penjara, mereka bisa jadi tidak diterima, tidak disukai dan bahkan diserang oleh sesama tahanan, seperti halnya dalam kasus Albert De Solvo ”the Boston Strangler”, yang ditikam sampai mati oleh sesama napi. Sejarah menyebutkan bahwa mereka sangat berkemungkinan untuk menjadi residivis. Sebuah pembunuhan seksual berantai yang dilakukan oleh seseorang, menjadi peringatan untuk pihak yang berwenang agar tidak pernah melepaskan pelaku tersebut dari penjara, karena hampir dapat dipastikan bahwa dia akan kembali melakukan kejahatan yang sama.