Diterjemahkan dari :

Malignant Sex and Aggression : An Overview of Serial Sexual Homicide

Wade C. Myers, M.D., Lawrence Reccoppa, M.D., Karen Burton, M.D., and Ross McElroy, M.D.

 

 

Disusun Oleh :

Reny Indah Puspita 99 311 005 (FK UPN)

Paulus Stefanus 99 311 019 (FK UPN)

Rininta 99 311 030 (FK UPN)

Lidya Agustina 99 311 044 (FK UPN)

Dianingsih Maryanti 11 99 158 (FK UKRIDA)

 

 

Pembimbing :

dr. Ferryal Basbeth, Sp.F

 

 

 

DEPARTEMEN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA

RSUPN dr. CIPTO MANGUNKUSUMO

JAKARTA, Juli 2006

Pembunuhan berantai telah menyita perhatian masyarakat banyak dan kalangan penegak keadilan untuk masalah kriminal, tetapi literatur mengenai masalah ini masih terbatas. Artikel ini membahas pandangan- pandangan dari kacamata para ahli jiwa mengenai pembunuhan seksual berantai sebagai salah satu tipe pembunuhan berantai. Karakteristik dari tipe pembunuhan dan pelanggarannya masih menjadi bahan diskusi. Batasan kualitas dan diagnosis kerja terhadap para pelaku pembunuhan seksual berantai sedang dibicarakan. Berbagai teori etiologi menjadi bahan diskusi, dengan menitikberatkan kepada penjelasan dari segi imaginasi dan psikodinamika. Aparat-aparat pemerintahan turut serta dalam memberantas kejahatan seksual ini, yaitu sebagai para ahli kesehatan jiwa yang profesional dalam menyajikan profil kriminalitas ini.

Pembunuhan berantai telah menyita perhatian masyarakat banyak dan media hukum, tetapi literatur dari bidang psikiatri mengenai topik ini dengan beberapa pendapat tertulis, relatif berisi hanya mengenai perlukaan. Literatur mengenai pembunuhan seksual berantai sangatlah terbatas; lebih jauh lagi, pengetahuan umum tidak membedakan antara pembunuhan seksual dan yang bukan pembunuhan seksual. Menurut Dietz, penjelasan yang masuk akal mengenai pembunuhan ini masih jarang “frekuensi angka kejadian pembunuhan ini sangatlah terbatas sehingga menjadi kendala dalam penelitian para ahli kejiwaan untuk menerangkan karakteristik tipe pembunuhan ini.”

Dalam artikel ini membahas mengenai satu pandangan dari tipe pembunuhan berantai, yaitu pembunuhan seksual berantai. Umumnya, referensi akan dibuat berdasarkan literatur pembunuhan berantai secara tersendiri, apabila diperlukan demi untuk melengkapi data-data yang terbatas mengenai masalah ini. Pada statusnya, dalam kehidupan sehari- hari kebanyakan pembunuhan berantai adalah pembunuhan seksual, bersamaan dengan itu, terdapat literatur-literatur mengenai pembunuhan seksual berantai untuk melengkapi kekurangan informasi yang ada.

Sebanyak 4000 – 5000 orang Amerika setiap tahunnya dapat menjadi korban pembunuhan berantai. FBI mengkalkulasikan kurang lebih 35 pembunuh berantai berada di AS. Meskipun demikian banyak pakar-pakar kriminal berpendapat bahwa angka tersebut jauh lebih rendah daripada jumlah sebenarnya, yang diperkirakan dapat mencapai 100 pembunuh. Angka tersebut hanya menggambarkan pembunuh berantai saja, tidak menggambarkan pembunuh seksual berantai. Tetapi secara umum diyakini oleh para pakar hukum dan kalangan klinisi bahwa kebanyakan dari pembunuhan berantai adalah pembunuhan seksual berantai. Celakanya, tidak ada angka yang tepat yang mengenai insidensi dan prevalensi pembunuhan seksual berantai ini.

Banyak perbedaan pendapat dalam literatur-literatur yang ada yang berhubungan dengan masalah ini dalam masyarakat kita. Pada tahun 1966, hanya 6% dari pembunuhan yang tidak jelas motifnya. Pada tahun 1985, kasus pembunuhan seperti ini meningkat sampai 20%. Selama periode tahun 1977- 1984, pembunuhan hanya meningkat 12% saja, sementara pembunuhan tanpa motif meningkat sebesar 270%. Sejak tahun 1971- 1988, terjadi 49 kasus “ekstrim” ( lebih dari 10 korban ) dari pembunuhan berantai. Telah terjadi peningkatan kurang lebih 10 kali lipat dari angka kejadian pembunuhan berantai dalam 2 dekade terakhir ini, dibandingkan selama 2 abad ini. Beberapa ahli percaya bahwa rasio pembunuh berantai termasuk stabil dan peningkatan yang terjadi merupakan efek dari pemberitaan- pemberitaan di berbagai media.

Hanya 3 negara bagian, yaitu Hawaii, Iowa, dan Maine yang dinyatakan bebas dari pembunuhan berantai yang terdokumentasikan. Pelanggaran ini tidak hanya menjadi masalah untuk perserikatan negara- negara barat. Seorang pelaku dieksekusi di Harbin, Cina atas pelanggaran membunuh 7 orang wanita, banyak dari korban ini merupakan PSK. Tiga dari korbannya tidak teridentifikasi, sehubungan dengan tidak ditemukannya bagian-bagian tubuh korban.

Sebagai tambahan, Henry Lee Lucas, seorang pembunuh brutal yang membunuh 140 orang korbannya di barat daya antara tahun 1976- 1982, kasus ini diyakini menjadi sejarah terkenal dalam profil pembunuhan berantai di AS, walaupun beberapa aparat penegak hukum meyakini Theodore Bundy membunuh lebih banyak korbannya, yaitu lebih dari 300 wanita muda.

Penelitian terbaru menggambarkan bahwa pembunuhan berantai ini merupakan fenomena yang baru. Pada penelitiannya, Jenkins, menemukan 24 kasus “ekstrim” pembunuhan berantai di AS sejak 1900-1940 dan beberapa kasus yang terusut kembali ke model abad 18 dan 19. Di Eropa beberapa laporan pelaku tindak kriminal terjadi dalam beberapa waktu yang lalu, tetapi tipe kejahatannya serupa dengan pembunuhan berantai kontemporer. Sebagai contoh Gilles de Rais, pada abad 15, bangsawan Perancis, menyiksa dan menganiaya, memperkosa dan membunuh ratusan anak- anak. Peter Stubb, “manusia serigala” pada abad ke-16, memperkosa, menyiksa secara seksual, pemakan daging manusia dan ratusan wanita dan anak perempuan. Fritz Herman, “Raksasa Hanover “, menyodomi, membunuh dan memakan daging korbannya yang kebanyakan anak laki- laki pada abad ke-19 di Jerman. Mungkin pembunuh berantai yang terkenal dalam sejarah, Jack The Ripper, menimbulkan teror di Inggris tahun 1888 yang memotong 5-6 pelacur sebagai korbannya. Serupa dengan kasus pembunuhan yang terjadi pada abad 20 di Inggris.

Tidak ada batasan umum untuk definisi pembunuhan berantai. Definisi Egger ialah sebagai berikut; “Pembunuhan berantai terjadi bila satu atau lebih individu melakukan pembunuhan kedua dan/atau melakukan pembunuhan secara berturut-turut dimana tidak ada hubungan antara korban dan pelaku pembunuhan ( dimana korban tidak mengenal pelaku); terjadi pada saat yang berbeda dan tidak ada hubungannya dengan pembunuhan sebelumnya; dan ini seringkali terjadi pada lokasi atau tempat yang berbeda.

Meskipun dalam definisi mencantumkan bahwa 2 kali pembunuhan berantai, sudah cukup memenuhi syarat pembunuhan berantai, kebanyakan sumber menggunakan angka kejadian pembunuhan yang lebih tinggi, yaitu dari 4-5 atau lebih banyak lagi.

Terpusat pada definisi pembunuhan berantai, harus dibedakan dengan pembunuhan “massal”, bentuk lain dari pembunuhan yang multipel. Dietz mendefinisikan pembunuhan massal sebagai “penyerbuan terhadap korban yang lebih dari satu orang yang secara intensif dibunuh oleh satu orang pelaku dalam satu kejadian.” Hal ini serupa dengan definisi lain mengenai gambaran pembunuhan masal ”…satu kejadian dalam waktu dekat…,” sedangkan definisi waktu untuk pembunuhan berantai ialah ”…jeda waktu antara pembunuhan, minimal dua hari sampai dua minggu bahkan berbulan-bulan.”

Pusat Analisis Nasional Terhadap Kejahatan Dengan Kekerasan di Akademi FBI, di Quantico, Virginia, mengelompokkan pembunuhan berantai menjadi dua tipe: “spree” dan “klasik”. Pembunuhan berantai tipe “spree” meliputi dua atau lebih pembunuh pada tempat yang terpisah tanpa adanya waktu ‘istirahat’ diantara setiap pembunuhan. Waktu antara tiap pembunuh dapat terjadi dalam menit atau hari, dan pelaku bertujuan untuk mendapatkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dan mungkin saja pelakunya adalah orang yang tempat tinggalnya berpindah-pindah. Pembunuhan berantai yang “klasik” memenuhi dua episode pembunuhan yang terpisah, biasanya oleh satu pelaku yang sama, terpisah dalam periode waktu, jam sampai tahun. Secara khas, metode yang dipakai dari kejadian tindak kriminal menggambarkan kesadisan dan kelainan seksual.

Beberapa sinonim mengenai pembunuhan seksual berantai meliputi; lust murderer (dari Jerman “lustmorder”), pembunuhan sadis, pembunuhan yang kompulsif, pembunuhan seksual yang sadis dan erotofonofilia. Batasan-batasan yang jelas antara pembunuhan seksual berantai dan tipe lainnya sangatlah penting, meliputi demografi, diagnosis, dan teori etiologi dari tipe pembunuhan. Dietz membedakan pembunuhan berantai menjadi 5 kategori, a/l:

· Seksual sadisme Psikopat

· Pembunuhan kriminal tipe “spree” ( pembunuhan dilakukan secara berantai untuk memenuhi keinginan pelaku untuk mendapatkan kepuasan, uang dan barang- barang berharga, penjahat “Bonnie and Clyde”)

· Kejahatan yang terorganisasi (contohnya: mafia, gangster)

· Pembunuhan dengan racun dan menimbulkan asfiksia (contoh: pembunuhan berantai di RS)

· Pembunuh yang psikotik (contoh: David Berkowitz, “Anak dari Sam”, yang menyatakan dirinya membunuh karena disuruh oleh anjing tetangganya.)

Kategori pertama, “Seksual Sadisme Psikopat”, berhubungan dengan pembunuhan seksual berantai. Jenkins, mempelajari pembunuhan berantai di Inggris mengecualikan motivasi politik dan pembunuh berantai yang disewa.

Setelah membedakan antara pembunuhan seksual berantai dengan tipe pembunuhan berantai lainnya, lebih jauh lagi tipe pelakunya dapat ditentukan juga. Dikotomi penting meliputi versi geografi yang menetap dan berpindah- pindah (transien), serta tipologi yang terorganisasi dan yang tak terorganisasi. Pembunuh dengan lokasi tempat tinggal yang menetap adalah satu pembunuh yang memilih korbannya berdasarkan tempat tinggal secara istimewa. Contohnya Gacy di Chicago dan Wayne Williams di Atlanta. Tipe lain dari pembunuh adalah memilih lokasi yang berpindah- pindah. Ted Bundy’s melakukan pembunuhan di beberapa negara bagian (Washington, Utah, Colorado, dan terakhir Florida), dia membunuh disekitar 6 negara bagian.

Para pembunuh yang transien, ialah sebuah produk dari kemajuan sistem ‘highway’ yang menghubungkan antar negara bagian. Hal ini dapat dilihat pada kasus pembunuhan ‘career’ oleh Earle Nelson pada tahun 1920. Sepanjang Februari 1926 sampai Juni 1927, Nelson telah melakukan 21 pembunuhan di 9 negara bagian, mulai dari California sampai New York dan Kanada.

Dikotomi penting lainnya pada pembunuhan seksual berantai ialah deskripsi yang direncanakan atau tidak, yang digunakan untuk mengklasifikasikan tempat kejadian perkara dan variabel cerita kehidupan dari pelaku kejahatan. Pada salah satu studi dari 36 orang pelaku pembunuhan yang disertai kekerasan seksual, pembunuhan yang direncanakan 2 kali lebih umum, dibandingkan dengan yang tidak direncanakan. Kejahatan yang direncanakan memeperlihatkan bukti yang repetitif, terorganisir dan hasilnya dapat dibedakan dengan kejahatan yang tidak direncanakan, yang hasilnya lebih kacau. Pembunuh berantai yang terencana diyakini memiliki kebanggaan yang tinggi dalam hal keahlian, yang dapat dilihat dari strategi dan jumlah korban mereka. Pembunuh ini sangat dipengaruhi oleh fantasi mereka, sedangkan pembunuh yang tidak direncanakan umumnya membunuh dengan lebih impulsif. Singkatnya pembunuh terencana ini cenderung untuk; didasari suatu rencana, melakukan pengekangan terhadap korbannya, memperkosa korbannya selagi hidup, unjuk kekuatan/kontrol terhadap koraban dan mempergunakan kendaraan. Para pembunuh yang tidak direncanakan, biasanya; meninggalkan senjata pada tempat kejadian perkara, memposisikan korbannya, memperkosa korban setelah mati, menyimpan mayat korban, berusaha supaya korban tidak dikenali dan tidak menggunakan kendaraan.

Menariknya para pembunuh yang terencana akan berubah menjadi tidak terencana seiring berjalannya waktu. Seperti akhir riwayat Theodore Bundy; dia mabuk berat, menggunakan kartu kredit curian dan tampaknya mengalami peningkatan gejala paranoid dan putus asa, tidak seperti biasanya, saat dia lebih mampu untuk mengontrol dirinya.

Karakteristik lain yang penting untuk mendeskripsikan pembunuhan seksual berantai ialah tipe korban, modus operandi dan variabilitas TKP. Secara umum korban dari pembunuhan berantai memiliki 2 karakteristik, yaitu rapuh dan memiliki keinginan untuk dikontrol. Pembunuh sadistik seringkali memilih korban seperti; wanita muda, anak-anak, PSK dan tuna wisma. Ted Bundy mengincar wanita muda dengan rambut panjang berwarna gelap, sementara Wayne Williams memilih laki-laki muda berkulit hitam.

Berbeda dengan pembunuhan lain yang paling sering menggunakan senjata api, maka pembunuh seksual berantai biasanya membunuh korbannya dengan tangan kosong, seperti metode asfiksia yang tidak umum digunakan, pemukulan atau penusukan multipel. Para pembunuh inijarang menggunakan senjata yang tidak personal seperti senjata api, karena mereka hanay akan mendapatkan sedikit kepuasan psikoseksual. Dari 159 pembunuhan berantai sejak tahun 1795 sampai 1988, beberapa metode yang umum digunakan untuk menimbulkan kematian ialah mutilasi (55%), penjeratan (33%) dan dipukul dengan alat (25%).

Korban pembunuhan seksual berantai seringkali mengalami mutilasi, yang merupakan suatu hal yang tidak umum dilakukan oleh pembunuhan biasa. Kebanyakan yang dimutilasi, di daerah payudara, genitalia, rektum dan/atau abdomen. Tanda bekas gigitan seringkali ditemukan, dan dapat juga ditemukan tanda gigitan seperti vampir dan kanibal. Pembunuh dapat melakukan atau tidak melakukan persetubuhan dengan korbannya dan dia juga bisa masturbasi di samping atau di atas korbannya.

Eckert dkk meneliti sejumlah kasus kekerasan, perlukaan dan kematian yang terkait dengan seks, dilihat dari segi patologi forensik dan sebagian dari artikelnya mencakup mengenai mutilasi dan perilaku pembunuh seksual berantai. Mereka mengklasifikasikan kekerasan seksual yang mengakibatkan cedera dan kematian sebagai; 1) aktifitas seksual konvensional (contohnya : kolaps vaskuler yang sekunder dari ‘cerebrovascular accident’ akibat aktifitas seksual), 2) aktifitas seksual kriminal (kategori ini mencakup pembunuhan seksual berantai di bawah subkategori pembunuhan) dan 3) aktifitas seksual lainnya (contohnya : sodomi, melkukan hubungan seks dengan binatang dan pedofilia).

Umumnya pembunuh seksual berantai akan memposisikan korbannya pada tempat pembunuhan terjadi. Banyak dari para pelaku ini menikmati kebanggaan dari hasil maha karya tindak kejahatan mereka. Bukti dari perbudakan dan parafilia seringkali ditemukan. Dietz melakukan studi terhadap 30 pelaku seksual sadistik multipel dan menemukan bahwa 23 dari mereka menggunakan perbudakan dalam melkukan aksinya. Bahkan banyak dari antara mereka sudah mempersiapkan panggung, tiang, kostum bahkan naskah untuk aksi kejahatannya.

Karateristik terakhir ialah bahwa naskah kejahatan mereka memiliki banyak kesamaan, yang berarti pembunuhnya akan menggunakan metode pembunuhan yang sama dan pengaturan TKP yang mirip pada pembunuhan yang kedua dan selanjutnya.

KARATERISTIK

Brittain memperkenalkan deskripsi klinis dari pembunuh seksual sadistik, kepada banyak ahli lainnya. Namun, beberapa studi lain menyatakan bahwa pembunuh seksual berantai memiliki berbagai macam karakteristik.

Berbeda dari keseluruhan kejahatan dengan kekerasan lainnya, mayoritas pelaku dan korbannya ialah berkulit putih. Meskipun pernah didapatkan kasus pembunuh berantai wanita, namun tidak didapatkan catatan mengenai pembunuh seksual berantai wanita. Carol Wuornes, seorang PSK berusia 35 tahun, dituduh telah membunuh 5 orang laki-laki di Florida dengan menggunakan senjata api, setelah berhubungan seks dengan mereka. Walaupun motifnya tidak pernah diketahui dengan pasti, namun ada pihak yang berspekulasi bahwa perilaku kriminalnya mewakili bentuk pembunuhan seksual berantai yang dilakukan oleh wanita.

Usia para pelaku ini biasanya kurang dari 35 tahun dan mereka memulai kejahatannya pada usia 20 tahun. Di Inggris secara kasar dapat dikatakan bahwa ‘karir’ mereka ini bertahan selama 4 tahun, namun di AS angka ini bertahan lebih lama. Pada 222 kasus pambunuhan berantai yang klasik yang dikumpulkan oleh Pusat Analisis Nasional Terhadap Kejahatan Dengan Kekerasan, angka mean dari usia mereka mulai melakukan pembunuhan ialah 27,5 tahun. NCAVC telah mengidentifikasi total 357 pembunuhan berantai sejak 1960, dengan penelusuran menggunakan komputer melalui berbagai sumber informasi. Para pelaku ini diduga telah membunuh 3.169 korban, dengan angka rata-rata 9 korban per pelaku.

Pembunuhan seksual berantai yang dilakukan oleh remaja, bukan merupakan suatu hal yang jarang terjadi. Burgess dkk melaporkan bahwa 10 dari 36 laki-laki yang didakwa melakukan pembunuhan seksual, ialah remaja. Pengarang W.C.M mengevaluasi 2 remaja laki-laki, berusia 13 dan 16 tahun, yang menunjukkan manifestasi sebagai perilaku pembunuhan seksual dini. Remaja pertama menyerang pengasuh anak tetangganya yang tidak dia kenal, dan mengatakan pada korbannya bahwa dia akan memperkosanya sambil berulang kali menusuk korban dengan pisau. Korbannya bertahan hidup walaupun mengalami, pneumotoraks, kebutaan sebelah akibat tusukan dan beberapa luka tusuk lainnya. Remaja kedua membunuh tetangga perempuannya yang berusia separuh baya, dengan penjeratan dan kemudian berhubungan seks denagn jenazah korbannya. Keduanya diadili dipersidangan dewasa dan dijatuhi hukuman yang lama, sehingga perkembangan perilaku mereka tidak dapat dipantau lebih lanjut. Tidak ada satupun dari mereka yang mampu atau mau mengungkapkan fantasi yang menyebabkan mereka malakukan tindak kejahatn tersebut, namun diasumsikan bahwa terjadi suatu fantasi sadistik yang kuat saat mereka melakukan kejahatan.

Para pelaku umumnya melakukan pembunuhan saat sedang sendirian, hanya ¼ sampai 1/3 dari mereka yang memiliki satu atau lebih partner. Kebanyakan mereka berasal dari keluarga berantakan yang menderita siksaan fisik, emosional maupun seksual. Pada kasus 30 orang pelaku kejahatan sadistik, yang 22 (73%) diantaranya telah melakukan setidaknya 1 kali pembunuhan, 1/5 nya mengalami siksaan fisik dan hampir ½ nya mengalami siksaan seksual. Pada kasus lain yang mengkaji 36 laki-laki yang setidaknya telah melakukan 1 pembunuhan seksual (29 atau 81% telah membunuh lebih dari 1 korban), 42% telah mengalami siksaan fisik, 74% siksaan emosional dan 43% siksaan seksual.

Retvitch menggambarkan hubungan ambivalen yang ekstrim antara karakter ibu, baik yang terlalu protektif, memperlakukan seperti anak kecil dan penolakan dari sang anak laki-laki. Persetubuhan dengan ibu, baik nyata maupun khayalan, juga sering ditemukan. Sang ayah bisa jadi dingin, menjaga jarak, otoriter dan sering memberi hukuman. Secara fisik para pelaku ini tampak normal dan tidak pernah melakukan sesuatu yang brutal. Penampilan yang normal ini, akan menambah histeria massal dari para tetangga di tempat tinggal pelaku, begitu mereka mengetahui adanya pembunuhan seksual berantai. Keadaan ini mirip seperti saat diadakannya Salem’s witch trial pada akhir abad ke 17.

Beberapa studi menunjukkan bahwa tidak seperti pembunuh lainnya, secara kasar 80% pembunuh seksual berantai memiliki tingkat kepandaian rata-rata sampai tinggi. Namun demikian, Hickey berpendapat bahwa kemampuan para pelaku untuk membunuh dan tidak tertangkap, lebih kepada kepandaian dalam menipu dan bukan berdasarkan intelegensia mereka. Secara umum dapat dikatakan bahwa pembunuh terencana memiliki intelengensia di atas rata-rata, sedangkan pembunuh tidak terencana sebaliknya.

Hanya 20% dari keseluruhan pembunuh berantai yang memiliki riwayat pengobatan psikiatri. Menurut Burgess dkk, 70% pria yang melakukan pembunuhan seksual (81% dari jumlah tersebut telah melakukan lebih dari 1 kali pembunuhan), pernah didiagnosis memiliki suatu kelainan psikiatrik. Namun kelainan jiwa yang bermanifestasi pada terdakwa semacam ini, tidak sering ditemukan. Lebih jauh lagi, Ressler dkk menemukan bahwa setengah (53%) dari kasus ini, memiliki kelainan psikiatrik pada keluarganya. Riwayat penyalahgunaan alkohol (69%), penyalahgunaan obat (33%) dan tindak kriminal (50%) pada keluarga, juga sering ditemukan.

Suatu angka yang signifikan menunjukkan bahwa sebagian dari para laki-laki ini, tidak memiliki riwayat kriminal sebelumnya atau hanya melakukan/pernah mendapatkan dakwaan atas kejahatan tanpa kekerasan selama ditahan. Namun 60% dari pembunuh berantai memiliki suatu riwayat kejahatan. Sekitar setengah (44%) dari 42 orang pembunuh berantai, memiliki riwayat pernah melakukan kejahatan berkaitan dengan seks. Pada studi yang dilakukan oleh Ressler dkk pada kelompok pelaku pembunuhan seksual berantai, memiliki gejala gangguan jiwa seperti mencuri (81%), berbohong (75%) dan kekerasan terhadap orang yang lebih tua/dewasa (84%), gejala-gejala ini sangat sering ditemukan pada dewasa muda. Gejala-gejala ini apabila ditelusuri sampai dewasa, akan membentuk suatu perilaku antisosial, berupa mencuri (56%), kebiasaan berbohong yang berlangsung kronik (68%) dan kekerasan terhadap sesama orang dewasa (86%).

Sebagian dari mereka ialah heteroseksual, namun beberapa memiliki riwayat aktifitas homoseksual. Didapatkan prevalensi tinggi mengenai disfungsi seksual dan parafilia non sadistik (transvestisme, voyeurisme, fetihisme, ekshibisionisme). Sebuah laporan menyatakan bahwa hampir setengah dari sejumlah terdakwa atas pembunuhan seksual, memiliki kebencian terhadap seks. Suatu fakta menarik ialah bahwa ternyata 81% dari para terdakwa ini, mengaku bahwa pornografi merupakan ketertarikan seksual terbesar mereka. Studi yang dilakukan oleh Prentky dkk, menemukan bahwa para pelaku pembunuhan seksual berantai memiliki angka parafilia yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan para pelaku pembunuhan seksual tunggal. Perbedaan angka ini terutama ditemukan pada fetihisme (71% berbanding 33%) dan cross dressing (25% berbanding 0%). Dietz melaporkan, bahwa dari 30 orang terdakwa atas kejahatan seksual sadistik (22 diantaranya melakukan pembunuhan), terdapat angka rata-rata 2,7 yang menderita parafilia. Laporan ini menyimpulkan bahwa ternyata yang terjadi di kehidupan nyata, berlawanan dengan pemikiran selama ini, bahwa parafilia jarang didapati pada para terdakwa atas kejahatan seksual sadistik.

Pelaku pembunuhan seksual berantai, memiliki kebutuhan psikologis untuk kontrol absolut, dominasi dan unjuk kekuatan terhadap korbannya, menciptakan siksaan, rasa sakit dan kematian, yang digunakan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam kesaksiannya, Roy Norris yang bersama-sama dengan Lawrence Bittaker melakukan penculikan, pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap 5 gadis remaja, mengatakan bahwa perkosaan bukan merupakan bagian terpenting, melainkan dominasinya yang terpenting. Para laki-laki ini menciptakan kehidupan yang penuh fantasi dan akan melakukan masturbasi setiap kali membayangkan perilaku seksual sadistik yang rekuren. Mereka yang sudah menikah (sebanyak 50%) dapat mengalihkan fantasi ini kepada pasangan atau anak-anak mereka.

Sebagian dari para pelaku kejahatan ini, memiliki pekerjaan mapan dan jabatan yang tinggi. Mereka seringkali mengejar pekerjaan yang dapat membawa mereka untuk berkontak dengan hewan atau manusia yang terluka atau menderita, agar dapat mereka kontrol. Lokasi yang menarik bagi mereka seperti rumah sakit, pemulasaraan jenazah dan rumah jagal. Riwayat kekejaman yang ekstrim, sering ditemukan. Insidensi dari penyalahgunaan obat dan alkohol pada pelaku pembunuhan seksual, masih merupakan suatu kontroversi. Beberapa studi melaporkan insidensi setinggi 50%. Diketahui juga bahwa mereka mengoleksi benda-benda yang bertema pornografi dengan kekerasan, perlengkapan polisi dan bahkan menulis sejumlah kejahatan mereka sendiri. Seringkali mereka menunjukkan minat yang tinggi terhadap paham Nazi, ilmu sihir hitam, siksaan, monster dan jenis-jenis senjata tertentu.

Kepribadian mereka digambarkan sebagai bertata krama baik, lembut, pendiam/penyendiri, kurang percaya diri, religius, inadekuat, kutu buku, obsesif dan hipokondriakal. Mereka seringkali menutupi/menyembunyikan temperamen mereka dari orang lain, walaupun sebagian dari mereka mengakui kebenciannya terhadap wanita. Liebert menyatakan bahwa tidak ada pelaku pembunuhan seksual yang menjalani psikoterapi intensif, sebagian disebabkan karena ketidakmampuan mereka untuk mempertahankan hubungan intim yang sesungguhnya.

Di dalam penjara, mereka bisa jadi tidak diterima, tidak disukai dan bahkan diserang oleh sesama tahanan, seperti halnya dalam kasus Albert De Solvo ”the Boston Strangler”, yang ditikam sampai mati oleh sesama napi. Sejarah menyebutkan bahwa mereka sangat berkemungkinan untuk menjadi residivis. Sebuah pembunuhan seksual berantai yang dilakukan oleh seseorang, menjadi peringatan untuk pihak yang berwenang agar tidak pernah melepaskan pelaku tersebut dari penjara, karena hampir dapat dipastikan bahwa dia akan kembali melakukan kejahatan yang sama.

Brittain memperkenalkan deskripsi klinis dari pembunuh seksual sadistik, kepada banyak ahli lainnya. Namun, beberapa studi lain menyatakan bahwa pembunuh seksual berantai memiliki berbagai macam karakteristik.

Berbeda dari keseluruhan kejahatan dengan kekerasan lainnya, mayoritas pelaku dan korbannya ialah berkulit putih. Meskipun pernah didapatkan kasus pembunuh berantai wanita, namun tidak didapatkan catatan mengenai pembunuh seksual berantai wanita. Carol Wuornes, seorang PSK berusia 35 tahun, dituduh telah membunuh 5 orang laki-laki di Florida dengan menggunakan senjata api, setelah berhubungan seks dengan mereka. Walaupun motifnya tidak pernah diketahui dengan pasti, namun ada pihak yang berspekulasi bahwa perilaku kriminalnya mewakili bentuk pembunuhan seksual berantai yang dilakukan oleh wanita.

Usia para pelaku ini biasanya kurang dari 35 tahun dan mereka memulai kejahatannya pada usia 20 tahun. Di Inggris secara kasar dapat dikatakan bahwa ‘karir’ mereka ini bertahan selama 4 tahun, namun di AS angka ini bertahan lebih lama. Pada 222 kasus pambunuhan berantai yang klasik yang dikumpulkan oleh Pusat Analisis Nasional Terhadap Kejahatan Dengan Kekerasan, angka mean dari usia mereka mulai melakukan pembunuhan ialah 27,5 tahun. NCAVC telah mengidentifikasi total 357 pembunuhan berantai sejak 1960, dengan penelusuran menggunakan komputer melalui berbagai sumber informasi. Para pelaku ini diduga telah membunuh 3.169 korban, dengan angka rata-rata 9 korban per pelaku.

Pembunuhan seksual berantai yang dilakukan oleh remaja, bukan merupakan suatu hal yang jarang terjadi. Burgess dkk melaporkan bahwa 10 dari 36 laki-laki yang didakwa melakukan pembunuhan seksual, ialah remaja. Pengarang W.C.M mengevaluasi 2 remaja laki-laki, berusia 13 dan 16 tahun, yang menunjukkan manifestasi sebagai perilaku pembunuhan seksual dini. Remaja pertama menyerang pengasuh anak tetangganya yang tidak dia kenal, dan mengatakan pada korbannya bahwa dia akan memperkosanya sambil berulang kali menusuk korban dengan pisau. Korbannya bertahan hidup walaupun mengalami, pneumotoraks, kebutaan sebelah akibat tusukan dan beberapa luka tusuk lainnya. Remaja kedua membunuh tetangga perempuannya yang berusia separuh baya, dengan penjeratan dan kemudian berhubungan seks denagn jenazah korbannya. Keduanya diadili dipersidangan dewasa dan dijatuhi hukuman yang lama, sehingga perkembangan perilaku mereka tidak dapat dipantau lebih lanjut. Tidak ada satupun dari mereka yang mampu atau mau mengungkapkan fantasi yang menyebabkan mereka malakukan tindak kejahatn tersebut, namun diasumsikan bahwa terjadi suatu fantasi sadistik yang kuat saat mereka melakukan kejahatan.

Para pelaku umumnya melakukan pembunuhan saat sedang sendirian, hanya ¼ sampai 1/3 dari mereka yang memiliki satu atau lebih partner. Kebanyakan mereka berasal dari keluarga berantakan yang menderita siksaan fisik, emosional maupun seksual. Pada kasus 30 orang pelaku kejahatan sadistik, yang 22 (73%) diantaranya telah melakukan setidaknya 1 kali pembunuhan, 1/5 nya mengalami siksaan fisik dan hampir ½ nya mengalami siksaan seksual. Pada kasus lain yang mengkaji 36 laki-laki yang setidaknya telah melakukan 1 pembunuhan seksual (29 atau 81% telah membunuh lebih dari 1 korban), 42% telah mengalami siksaan fisik, 74% siksaan emosional dan 43% siksaan seksual.

Retvitch menggambarkan hubungan ambivalen yang ekstrim antara karakter ibu, baik yang terlalu protektif, memperlakukan seperti anak kecil dan penolakan dari sang anak laki-laki. Persetubuhan dengan ibu, baik nyata maupun khayalan, juga sering ditemukan. Sang ayah bisa jadi dingin, menjaga jarak, otoriter dan sering memberi hukuman. Secara fisik para pelaku ini tampak normal dan tidak pernah melakukan sesuatu yang brutal. Penampilan yang normal ini, akan menambah histeria massal dari para tetangga di tempat tinggal pelaku, begitu mereka mengetahui adanya pembunuhan seksual berantai. Keadaan ini mirip seperti saat diadakannya Salem’s witch trial pada akhir abad ke 17.

Beberapa studi menunjukkan bahwa tidak seperti pembunuh lainnya, secara kasar 80% pembunuh seksual berantai memiliki tingkat kepandaian rata-rata sampai tinggi. Namun demikian, Hickey berpendapat bahwa kemampuan para pelaku untuk membunuh dan tidak tertangkap, lebih kepada kepandaian dalam menipu dan bukan berdasarkan intelegensia mereka. Secara umum dapat dikatakan bahwa pembunuh terencana memiliki intelengensia di atas rata-rata, sedangkan pembunuh tidak terencana sebaliknya.

Hanya 20% dari keseluruhan pembunuh berantai yang memiliki riwayat pengobatan psikiatri. Menurut Burgess dkk, 70% pria yang melakukan pembunuhan seksual (81% dari jumlah tersebut telah melakukan lebih dari 1 kali pembunuhan), pernah didiagnosis memiliki suatu kelainan psikiatrik. Namun kelainan jiwa yang bermanifestasi pada terdakwa semacam ini, tidak sering ditemukan. Lebih jauh lagi, Ressler dkk menemukan bahwa setengah (53%) dari kasus ini, memiliki kelainan psikiatrik pada keluarganya. Riwayat penyalahgunaan alkohol (69%), penyalahgunaan obat (33%) dan tindak kriminal (50%) pada keluarga, juga sering ditemukan.

Suatu angka yang signifikan menunjukkan bahwa sebagian dari para laki-laki ini, tidak memiliki riwayat kriminal sebelumnya atau hanya melakukan/pernah mendapatkan dakwaan atas kejahatan tanpa kekerasan selama ditahan. Namun 60% dari pembunuh berantai memiliki suatu riwayat kejahatan. Sekitar setengah (44%) dari 42 orang pembunuh berantai, memiliki riwayat pernah melakukan kejahatan berkaitan dengan seks. Pada studi yang dilakukan oleh Ressler dkk pada kelompok pelaku pembunuhan seksual berantai, memiliki gejala gangguan jiwa seperti mencuri (81%), berbohong (75%) dan kekerasan terhadap orang yang lebih tua/dewasa (84%), gejala-gejala ini sangat sering ditemukan pada dewasa muda. Gejala-gejala ini apabila ditelusuri sampai dewasa, akan membentuk suatu perilaku antisosial, berupa mencuri (56%), kebiasaan berbohong yang berlangsung kronik (68%) dan kekerasan terhadap sesama orang dewasa (86%).

Sebagian dari mereka ialah heteroseksual, namun beberapa memiliki riwayat aktifitas homoseksual. Didapatkan prevalensi tinggi mengenai disfungsi seksual dan parafilia non sadistik (transvestisme, voyeurisme, fetihisme, ekshibisionisme). Sebuah laporan menyatakan bahwa hampir setengah dari sejumlah terdakwa atas pembunuhan seksual, memiliki kebencian terhadap seks. Suatu fakta menarik ialah bahwa ternyata 81% dari para terdakwa ini, mengaku bahwa pornografi merupakan ketertarikan seksual terbesar mereka. Studi yang dilakukan oleh Prentky dkk, menemukan bahwa para pelaku pembunuhan seksual berantai memiliki angka parafilia yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan para pelaku pembunuhan seksual tunggal. Perbedaan angka ini terutama ditemukan pada fetihisme (71% berbanding 33%) dan cross dressing (25% berbanding 0%). Dietz melaporkan, bahwa dari 30 orang terdakwa atas kejahatan seksual sadistik (22 diantaranya melakukan pembunuhan), terdapat angka rata-rata 2,7 yang menderita parafilia. Laporan ini menyimpulkan bahwa ternyata yang terjadi di kehidupan nyata, berlawanan dengan pemikiran selama ini, bahwa parafilia jarang didapati pada para terdakwa atas kejahatan seksual sadistik.

Pelaku pembunuhan seksual berantai, memiliki kebutuhan psikologis untuk kontrol absolut, dominasi dan unjuk kekuatan terhadap korbannya, menciptakan siksaan, rasa sakit dan kematian, yang digunakan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam kesaksiannya, Roy Norris yang bersama-sama dengan Lawrence Bittaker melakukan penculikan, pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap 5 gadis remaja, mengatakan bahwa perkosaan bukan merupakan bagian terpenting, melainkan dominasinya yang terpenting. Para laki-laki ini menciptakan kehidupan yang penuh fantasi dan akan melakukan masturbasi setiap kali membayangkan perilaku seksual sadistik yang rekuren. Mereka yang sudah menikah (sebanyak 50%) dapat mengalihkan fantasi ini kepada pasangan atau anak-anak mereka.

Sebagian dari para pelaku kejahatan ini, memiliki pekerjaan mapan dan jabatan yang tinggi. Mereka seringkali mengejar pekerjaan yang dapat membawa mereka untuk berkontak dengan hewan atau manusia yang terluka atau menderita, agar dapat mereka kontrol. Lokasi yang menarik bagi mereka seperti rumah sakit, pemulasaraan jenazah dan rumah jagal. Riwayat kekejaman yang ekstrim, sering ditemukan. Insidensi dari penyalahgunaan obat dan alkohol pada pelaku pembunuhan seksual, masih merupakan suatu kontroversi. Beberapa studi melaporkan insidensi setinggi 50%. Diketahui juga bahwa mereka mengoleksi benda-benda yang bertema pornografi dengan kekerasan, perlengkapan polisi dan bahkan menulis sejumlah kejahatan mereka sendiri. Seringkali mereka menunjukkan minat yang tinggi terhadap paham Nazi, ilmu sihir hitam, siksaan, monster dan jenis-jenis senjata tertentu.

Kepribadian mereka digambarkan sebagai bertata krama baik, lembut, pendiam/penyendiri, kurang percaya diri, religius, inadekuat, kutu buku, obsesif dan hipokondriakal. Mereka seringkali menutupi/menyembunyikan temperamen mereka dari orang lain, walaupun sebagian dari mereka mengakui kebenciannya terhadap wanita. Liebert menyatakan bahwa tidak ada pelaku pembunuhan seksual yang menjalani psikoterapi intensif, sebagian disebabkan karena ketidakmampuan mereka untuk mempertahankan hubungan intim yang sesungguhnya.

Di dalam penjara, mereka bisa jadi tidak diterima, tidak disukai dan bahkan diserang oleh sesama tahanan, seperti halnya dalam kasus Albert De Solvo ”the Boston Strangler”, yang ditikam sampai mati oleh sesama napi. Sejarah menyebutkan bahwa mereka sangat berkemungkinan untuk menjadi residivis. Sebuah pembunuhan seksual berantai yang dilakukan oleh seseorang, menjadi peringatan untuk pihak yang berwenang agar tidak pernah melepaskan pelaku tersebut dari penjara, karena hampir dapat dipastikan bahwa dia akan kembali melakukan kejahatan yang sama.

Orne dkk mengatakan bahwa siapapun yang melakukan kekejaman berantai harus dianggap sebagai pengidap kelainan jiwa. Banyak studi tidak menggambarkan stereotipe penderita skizofrenia sebagai kejam dan berbahaya. Bloom mengamati bahwa sebagian dari penderita skizofrenia, terutama jenis paranoid, memiliki risiko tinggi untuk sewaktu-waktu menyerang orang-orang di sekitarnya yang telah dikenal (seperti anggota keluraga, staf rumah sakit dan sesama pasien), dan bukan orang asing. Pada kasus-kasus pembunuhan seksual berantai, sekalipun terdakwanya didiagnosis mengidap psikosis, namun jarang melarikan diri dari penjara. Retvitch dalam studinya pada tahun 1965, membuat diagnosis ”clinical schizophrenia ” pada 9 dari 43 terdakwa laki-laki, yang beberpa diantaranya telah melakukan lebih dari 1 kali pembunuhan. Tidak diketahui apakah ke 9 laki-laki ini dapat dimasukkan dalam kriteria DSM III-R untuk skizofrenia, karena selalu ada kecenderungan untuk terjadi ’overdiagnose’. Lebih jauh lagi, tidak diperoleh cukup informasi mengenai berapa banyak dari para terdakwa tersebut, yang merupakan pelaku pembunuhan seksual berantai. Namun terdapat beberapa kasus pembunuhan berantai, yang pelakunya mengidap skizofrenia.

Jenkins melaporkan bahwa hanya satu kasus yang sukses dari 8 kasus pembunuhan berantai, yang mengajukan pembelaan atas dasar gangguan jiwa, di Inggris antara 1940-1985. Bahkan pada beberapa kasus dengan bukti meyakinkan dari bagian psikiatrik, bahwa yang bersangkutan menderita skizofrenia paranoid (seperti John George Haigh pada tahun 1949, Peter Sutcliffe pada tahun 1980), terdakwa tetap dinyatakan tidak mengidap gangguan jiwa dan divonis bersalah. Pada kasus Haigh, jaksa penuntut beragumentasi bahwa segala pernyataan yang dikeluarkan oleh terdakwa, ialah invalid, karena terdakwa memiliki keinginan kuat untuk menyelamatkan hidupnya. Pada persidangan Peter Sutcliffe sang ’Yorkshire Ripper’, yang memutilasi 13 orang PSK, setelah melibatkan mereka dalam sistem delusi paranoidnya, hakim segera menolak beberapa pernyataan saksi ahli dan memutuskan bahwa ia layak untuk dipersidangkan, serta dijatuhi hukuman seumur hidup.

Terdapat kesamaan dalam ketidak suksesan pembelaan berdasarkan ’not guilty by reason of insanity’ pada sidang pengadilan di Amerika Serikat. Sebagai contoh pada kasus Albert Fish yang dengan sadis membunuh banyak anak di daerah Northeast pada tahun 1920 dan 1930, walaupun beberapa psikiater mendiagnosis dengan psikosis paranoid berat, namun ia dianggap tidak memenuhi definisi legal dari gangguan jiwa dan dijatuhi hukuman mati.

Psikiater mengkategorikan para pelaku ini sebagai psikopat. Levin dan Fox memberikan pandangan mereka terhadap pembunuhan massal : ’ walaupun kejahatan mereka bagi banyak orang dianggap sebagai sesuatu di luar batas masuk akal, namun mereka tidak sakit, baik dari segi medis maupun segi legalitas. Pembunuh berantai merupakan orang-orang dengan tipe kepribadian sosiopati yang kehilangan kontrol internal terhadap perilakunya, namun memiliki kebutuhan yang eksesif akan kontrol dan dominasi terhadap orang lain ’.

Clifford Olson, kriminal dari Kanada yang paling terkenal dan suka menggunakan kata-kata kejam sebagai siksaan. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 1982, karena menyiksa dan membunuh 11 atau lebih anak-anak laki-laki dan perempuan. Hare dkk mendeskripsikan kepribadiannya sebagai tipikal seorang psikopat. Memiliki harga diri yang tinggi, temperamen kasar, kemampuan untuk memanipulasi dan menipu, kekurangan rasa bersalah, bicaranya dibuat-buat menjadi sangat halus dan menawan, serta merupakan seorang pembohong yang patologis. Ia menyinggung publik dengan mengatur pembayaran sebesar 100.000 dollar kepada keluarganya, karena ia telah mengungkapkan dimana letak ke 7 jenazah korbannya disembunyikan. Keluarga korbannya masih disiksa dengan cara mengirimkan surat dari dalam penjara, yang berisi bagaimana anak-anak mereka dibunuh.

Sebagian pendapat menyatakan bahwa pada beberapa individu ini, dugaan psikosis merupakan produk dari kepura-puraan yang dibuat dengan mulus oleh seorang sosiopati. Brittain menyimpulkan bahwa tidak berguna dan inkomplit , bila kita secara sederhana melabel individu seperti mereka dengan diagnosis psikopat. Money seorang seksologis forensik, menambahkan bahwa diagnosis semacam itu, irelevan secara yudisial, karena tidak ada patokan untuk membebaskan terdakwa kejahatan seksual dari tanggung jawabnya secara legal atas kejahatan yang dilakukan. Banyak dari para laki-laki ini tidak memenuhi tipikal seorang sosiopati, karena ketiadaan catatan kriminal, ketiadaan penyalahgunaan obat/alkohol dan ketiadaan pekerjaan yang tidak mapan.

Banyak ahli setuju bahwa kriminal-kriminal ini merupakan seksual sadisme. Definisi sadisme ialah perilaku dan fantasi yang berulang, dengan karakter ingin mengontrol orang lain melalui dominasi, mempermalukan orang lain atau menyakiti, untuk tujuan memproduksi stimulasi seksual. MacCullock dkk menyarankan bahwa walaupun terdapat gangguan psikosis, mungkin saja gangguan tersebut tidak berhubungan dengan perilaku sadisme mereka.

Beberapa ahli mempertanyakan mengenai adanya disfungsi organik pada pelaku pembunuhan, karena terdapat kasus dimana pelaku memiliki sejarah cedera kepala berat dan kelainan pemeriksaan CT-scan, EEG dan tes neuropsikologi. Money, mengambil kesimpulan adanya persamaan antara serangan parafilia dalam pembunuhan berantai dengan kejang psikomotor pada epilepsi di lobus temporal. Sayangnya belum ada studi perbandingan yang memasukkan peralatan penunjang (seperti CT-scan, MRI,dan EEG), kadar neurotransmiter, dan androgen pada pelaku pembunuhan dengan kejahatan seksual berantai.

Beberapa klinisi menemukan hubungan antara tindakan kriminal dengan gangguan kepribadian ganda dan mencatat adanya amnesia yang merupakan tanda kardinal dari gangguan kepribadian ganda setelah melakukan pembunuhan (sekitar 40-70%). Orne.dkk, menyatakan harus hati-hati dalam mendiagnosis gangguan kepribadian ganda, karena beberapa individu dapat berpura-pura dalam keadaan terhipnotis dan menderita gangguan kepribadian ganda. Untuk menguatkan adanya kelainan maka dicari adanya kepribadian otonom tertentu yang dari awal sudah diderita, pola perilaku, dan hubungan sosial.

Walaupun beberapa pembunuh memiliki sikap kompulsif secara berulang, merencanakan ritual, dan menggambarkan kecemasan yang berat jika menahannya, tetapi aktivitas ini bukan obsesif kompulsif sebenarnya, karena ia mendapat kesenangan dari aktivitas khusus dan hanya berharap menghentikannya setelah mendapat kerugian sekunder. Ketika dimasukkan ke dalam DSM III-R nomenklatur mengenai pembunuhan berantai disertai kejahatan seksual, kebanyakan klinisi mendiagnosis kejahatan seksual pada aksis I dan anti sosial atau campuran (cluster B) gangguan kepribadian pada aksis II.

Dalam teori banyak penyebab pembunuhan berantai termasuk sosiokultur, faktor psikologi, psikodinamik, biologik atau organik. Studi mengenai faktor psikologi pada kasus pembunuhan disertai kejahatan seksual yang dilakukan Kraft Ebing tahun 1886 dengan judul “ Psycopathic Sexualis “ menggambarkan sadisme, nafsu membunuh, dan kekerasan seksual yang dilakukan pembunuh berantai dari Jerman. Catatan dari Brittain menyatakan pelaku pembunuhan sadis sebagai pemimpi di siang hari, sangat kaya dan hidup dengan fantasi tinggi. Dimana kehidupan fantasinya lebih penting daripada kehidupan sehari-hari. Revitch menggambarkan fantasi yang kejam pada motif pembunuhan dengan kejahatan seksual. Burgess.dkk, membuat motif dari para pelaku pembunuhan yang disertai kejahatan seksual, yaitu:

  1. Trauma psikologi dini.
  2. Respons yang terpola pada fantasi.
  3. Fantasi yang kejam.
  4. Ketidakmampuan menahan diri.
  5. Filter feedback yang memupuk pola pikir secara berulang-ulang.

Studi yang dilakukan Prentky.dkk, menyatakan bagian penting dari fantasi adalah mekanisme internal yang mendorong dilakukannya kekerasan seksual secara sadis berulang-ulang. Ia juga menemukan pelaku pembunuhan disertai kejahatan seksual berantai lebih terorganisir dalam melakukan aksinya. Studi dari MacCulloh.dkk, terhadap 16 pasien di rumah sakit yang terdiagnosis gangguan kepribadian psikopat dan telah melakukan kekerasan seksual yang kejam, bahwa 13 dari 16 orang pelaku kejahatan berhubungan dengan fantasi mereka. Juga ditemukan peningkatan perilaku sadis berasal dari fantasi sadis berupa dorongan untuk membunuh. Revitch menggambarkan stimulus yang mendorong pembunuhan perempuan oleh laki-laki yaitu:

  1. Kriminalitas yang distimulasi lingkungan.
  2. Situasi kriminalitas.
  3. Dorongan untuk melakukan kriminalitas.
  4. Katatonia yang mendorong terjadinya kriminalitas.
  5. Kompulsi yang mendorong kriminalitas.

Beberapa pelaku ingin menahan dorongan ini dan biasanya mengakibatkan kecemasan berat disertai manifestasi somatik.

Liebert membuat kesimpulan kebanyakan pelaku pembunuhan berantai disertai kejahatan seksual memiliki kepribadian narsistik diikuti sikap anti sosial dan gangguan impuls sadistik. Pada individu terdapat elemen agresif/destruktif pada hubungan ibu dan anak sebagai elemen disosiasi. Elemen ini dianggap sebagai kejahatan dari dalam diri individu dan memproyeksikannya terhadap korban perempuan.

Pornografi dan isu penerimaan kultur kekerasan memberi kontribusi terhadap pembunuhan yang disertai kejahatan seksual. Banyak penulis mengambil kesimpulan bahwa pornografi memberi sumbangan terhadap aksi pembunuhan yang dilakukan individu. Penerimaan, penyebarluasan, dan penyiaran kekerasan pada skala lebih besar melalui massmedia ( televisi, film, video, musik populer) mempengaruhi bentuk dari kekerasan seksual. Wilson dalam tulisannya mengenai pembunuhan berantai dengan target anak-anak, menyatakan bahwa materi video kontemporer, musik populer, dan semacamnya memberi sumbangan peningkatan tindak kekerasan.

Ahli lain mengadakan pendekatan mengenai hubungan antara seks dan agresi pada pembunuh seksual berantai, dari perspektif biologis. Money mengatakan bahwa pembunuhan seksual (dan bentuk lain dari seksual sadisme) bukan merupakan suatu tipe perilaku antisosial, melainkan suatu penyakit seksologikal spesifik. Menurutnya, pada keadaan penyakit ini, otak diaktifasi secara patologis, sehingga secara simultan meneruskan stimulus untuk menyerang menjadi stimulus seks dan perilaku bersetubuh. Seperti juga Revitch, Money mensitasi penjelasan Maclean mengenai proksimitas dan interkoneksi struktur limbik dengan agresi (amygdala) dan struktur yang mengontrol fungsi seksual (hipokampus dan septum). Money lebih jauh lagi menggambarkan hubungan paralel antara bangkitan episodik dari seksual sadisme dengan epilepsi lobus temporal. Dia juga menyarankan lima bagian dari clinical sexology workup, yaitu; 1) predisposisi herediter, 2) fungsi hormon, 3) hubungan patologis, 4) riwayat siksaan seksual dan 5) gejala dari sindrom lain.

Peran hormon individual dan neurotransmiter pada pembunuh seksual berantai, belum diselidiki secara spesifik. Studi mengenai peran testoteron dalam kekerasan seksual menunjukkan hasil yang berlawanan. Kemungkinan peran serotonin pada pembunuhan sadis menarik banyak minat. Satu studi menunjukkan bahwa seseorang yang membunuh partner seksnya, memiliki kadar CSF 5-HIAA (suatu metabolit serotonin) yang rendah.

Pusat ini berlokasi di Akademi FBI di Quantico, Virginia, yang berdiri sejak 1984 dan sekarang pendanaannya berada di bawah anggaran FBI. Pusat ini melayani penegakan hukum yang mengarah ke sains tingkah laku dan pusat pemrosesan data, yang didesain untuk konsolidasi riset, pelatihan dan investigasi, berfungsi untuk mendukung secara operasional dan bertujuan menyediakan ahli untuk penegakan hukum melawan kejahatan yang tidak biasa, aneh dan/atau berulang.

Program Anti Kekerasan Kriminal sebagai subunit, mulai beroperasi tahun 1985. Program ini menerima laporan kriminal dari AS, Kanada dan negara lain, dalam usahanya untuk menghubungkan pembunuhan berantai. Subunit ini bertujuan untuk mewaspadai dan menginformasikan penegak hukum yang berusaha menangkap pelaku kejahatan yang sama, namun memiliki riwayat kejahatan dalam yurisdiksi yang berbeda. Staf yang dimiliki ialah ahli analisis kejahatan dan orang yang ahli dalam menginvestigasi kasus pembunuhan.

Subunit lain ialah Program Analisis Investigasi Kriminal yang memiliki agen khusus yang bertugas dalam pengenalan pelaku, yang dulunya dikenal dengan nama profil psikologis atau profil kepribadian pelaku kejahatan. Proses pengenalan, awalnya menggunakan tehnik identifikasi kepribadian dan karakteristik kebiasaan pelaku berdasarkan analisis dari tindak kejahatan, namun tidak dapat memberikan data dari pelaku. Ada 7 langkah dalam pengenalan pelaku kejahatan; 1) evaluasi kejadian kriminal, 2) evaluasi komprehansif pada detil TKP, 3) analisis komprehensif dari korban, 4) evaluasi laporan awal polisi, 5) evaluasi hasil otopsi, 6) peningkatan pengenalan pelaku secara kritis dan 7) saran investigasi dalam menyusun profil pelaku.

Profil psikologi dapat menyajikan data yang berguna, dengan memperkecil dugaan tersangka, namun tidak didesain untuk penentuan secara pasti. Swanson dkk menyatakan bahwa hasil dari profil ialah untuk menyediakan informasi yang cukup bagi penegak hukum, sehingga mampu melakukan investigasi yang lebih terarah. Survei mengatakan adanya angka keberhasilan sebesar 17%, dapat mengarah langsung ke pelaku. Sekitar ¾ kasus berhasil dipecahkan dengan adanya pengenalan pelaku ini.

Liebert memperingatkan bahwa terdapat profil umum yang dapat menyulitkan investigator dalam menentukan identitas yang khusus dari pelaku pembunuhan berantai. Brittain menyatakan tidak ada seorangpun yang bebas dari hukum, sebagai tersangka karena pemikiran. Liebert menyarankan bahwa dukungan psikiater akan sangat bermanfaat bagi investigasi, khususnya bila terdapat motif seksual. Motif seksual pada setiap pembunuhan tidak jelas, akibat tidak adanya bukti dari TKP. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah tindak kekerasan yang tidak dikategorikan pembunuhan yang disertai motif seksual.

Para ahli sosiologi menyatakan teori bahwa kasus kriminal diikuti dengan benturan yang substansial, karena pelaku melanggar budaya tradisional Barat yang dianggap tabu, yaitu pembunuhan dan berhubungan dengan seksual. Dari sudut pandang psikoanalisis, aspek yang paling tidak jelas dari kejahatan seperti ini ialah bahwa pada pelaku didapati potensi merusak yang tersembunyi di dalam tampilan fisik yang normal. Yang menjadi pertanyaan ialah apakah kita memiliki suatu kecenderungan untuk melihat pelaku pembunuhan disertai motif seksual, sebagai produk suatu kegilaan, dan berusaha meyakinkan diri kita bahwa kita masing-masing memiliki kemampuan untuk tidak melakukan kejahatan ?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.